""
Vindi Adiguna

Vindi Adiguna

16 December 2021

Foto 1 HL 1

Rika Sarfika meraih gelar doktor termuda pada Pascasarjana Fakultas Kedokteran Program Studi S3 Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas.

Ia meraih gelar tersebut usai menyelesaikan disertasinya yang berjudul “Model Pendidikan Kesehatan Remaja Peduli Kesehatan Jiwa (RIKA) Berbasis Machine Learning untuk Mengurangi Stigma Gangguan Jiwa di Kalangan Remaja Kota Padang Sumatra Barat”.

Modul dan aplikasi RIKA merupakan dua produk yang ia ciptakan dalam model pendidikan kesehatan untuk mengurangi stigma gangguan jiwa di kalangan remaja. Remaja dapat mengakses modul dan aplikasi RIKA yang berbasis machine learning ini secara online pada laman www.rikasmart.com.

Machine learning merupakan bagian dari ilmu kecerdasan buatan (artificial intelligence), di mana remaja dapat belajar secara mandiri melalui sistem komputer yang dirancang sesuai dengan kebutuhan remaja. Melalui sistem ini, pendidikan kesehatan yang diberikan dapat lebih efektif dan efisien karena tidak memerlukan resources.

Dalam disertasinya Rika menyebut, remaja adalah usia yang paling rentan mengalami gangguan jiwa dibanding usia lainnya. Namun hal ini sering terabaikan. Stigma negatif tentang orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) atau yang biasa disebut masyarakat sebagai orang gila menimbulkan dampak yang merugikan bagi keterlambatan dalam penanganan.

“Rasa malu dan takut seringkali membuat keluarga membiarkan anggota keluarganya yang mengalami masalah kejiwaan begitu saja. Bahkan tanpa mendapat pengobatan dari tenaga ahli. Jadi tak heran, ODGJ sering mendapat perlakuan tidak manusiawi seperti dipasung karena dianggap membahayakan diri sendiri dan orang sekitar,” ucap Rika.

Stigma ini pun berpengaruh terhadap sikap dan perilaku remaja terhadap masalah kejiwaan yang dialami. Remaja cenderung menyembunyikan masalahnya karena khawatir dianggap negatif. Akibatnya, masa depan remaja yang seharusnya bisa lebih cepat diselamatkan jadi tertunda karena ketidaktahuan dan tidak terdeteksi nya masalah gangguan kejiwaan pada remaja ini.

“Melalui modul dan aplikasi RIKA ini, remaja dapat mengetahui apa-apa saja penyebab gangguan jiwa pada remaja, jenis-jenis gangguan jiwa yang umum terjadi pada remaja, cara mengatasinya dan bagaimana mendapatkan bantuan dari tenaga ahli. Metode pembelajaran menggunakan aplikasi ini sudah diterapkan di beberapa sekolah. Dan dinilai berhasil mengurangi stigma gangguan jiwa pada remaja,” ucap Rika.

Jika stigma remaja terkait gangguan jiwa ini sudah berkurang, diharapkan kesadaran remaja terhadap masalah kesehatan jiwa menjadi lebih baik. Sehingga, dapat memperbaiki sikap remaja dalam mencari bantuan kesehatan maupun dalam berperilaku terhadap ODGJ. Karena mereka sudah paham bahwa ODGJ bukan dijauhi tapi seharusnya dibantu agar bisa sembuh.

Dr. Rika Sarfika, S.Kep., Ns., M.Kep saat ini merupakan dosen termuda dan tercepat bergelar doktor dari Fakultas Keperawatan Unand. Perempuan kelahiran Padang Tae, 15 September 1984 ini menamatkan S1 Keperawatan di Unand tahun 2008, Ners tahun 2009, dan S2 Keperawatan di Universitas Indonesia tahun 2012. Ia lulus ujian doktor pada 25 November 2021.

 

Sumber  : https://www.hantaran.co/rika-raih-gelar-doktor-termuda-kesmas-fk-unand/

16 December 2021

 

IMG 20211203 WA0019

Lili Fajria meraih gelar doktor usai mempertahankan disertasinya di Fakultas Kedokteran Unand, Jati, Padang, baru-baru ini.

Fakultas Keperawatan (FKep) Unand kembali menambah dosen bergelar doktor. Kali ini, Ns Lili Fajria SKep MBiomed yang berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Model Pengasuhan Anak Jelang Remaja (Pajar) sebagai upaya meningkatkan kemampuan keluarga dalam membangun orientasi seksual anak remaja”, di hadapan penguji dalam ujian terbuka Program Doktor Pascasarjana Fakultas Kedokteran Unand, akhir pekan lalu.

Menurut Lili, penyimpangan orientasi seksual sebagai bagian dari permasalahan LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) akhir-akhir ini semakin marak terjadi di kalangan masyarakat. Selain di kalangan orang dewasa “wabah” LGBT juga sudah merambah ke kalangan remaja dan pelajar. Hal ini menurut dia, tentu sangat mengkhawatirkan, karena remaja dan pelajar aset bangsa, calon pemimpin bangsa yang tentunya harus menjadi perhatian serius semua pihak.

“Di Indonesia LGBT dipandang sebagai perilaku seksual tidak wajar dan menyimpang dari agama, norma, serta aturan berlaku. Masyarakat menganggap kaum LGBT kaum “penyakit” yang berbahaya bagi lingkungan sosial. Kontroversi fenomena LGBT dapat menular ke orang lain menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat merasa perlu menjauhi kaum tersebut,” jelas Lili.

 

Menurut dia, hingga saat ini belum ada data yang pasti mengenai kaum LGBT. Di dunia diperkirakan angkanya mencapai 750 juta orang dan estimasi jumlah gay di Indonesia mencapai 1.095.970 orang (Kemenkes RI. 2012). Menurut data KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional di Sumbar sendiri mencatat lebih dari 25 ribu LBGT.

“Penyebab penyakit perubahan orientasi seksual menyimpang ini, hingga saat ini belum ada teori yang menjelaskan. Sejauh ini banyak perdebatan para ahli sosiologi, ahli genetika dan ahli kesehatan masyarakat. Namun, beberapa penelitian menemukan faktor sosial yang berpengaruh dan berkontribusi dalam pembentukan orientasi seksual,” terang Lili.

Di antaranya, faktor lingkungan sosial seperti pola asuh orangtua, dinamika psikologis dan pengalaman seksual, faktor lebih dekat dengan kakak perempuan, peran ayah tidak efektif, kurang kasih sayang. Lalu, mendapatkan perlakuan kekerasan, sehingga mencari sosok ayah di luar rumah atau ibu lebih menginginkan anak perempuan dan memperlakukan anaknya seperti perempuan menjadi faktor rIsiko anak laki-laki menjadi waria, punya pengalaman pernah mengalami kekerasan seksual dengan jenis kelamin sama saat di sekolah.

“Hal ini tentu menjadi keprihatinan kita bersama. Keluarga yang menjadi wadah pertama bagi seorang anak dalam belajar punya tugas dan peran penting dalam membentuk orientasi seksual anak sesuai dengan jenis kelaminnya. Perkembangan pembentukan orientasi seksual terjadi dalam beberapa tahap tumbuh kembang anak,  dimulai sejak anak dilahirkan hingga anak mencapai usia pubertas. Setelah usia pubertas, anak akan memutuskan orientasi seksualnya sendiri apakah kecenderungan ketertarikannya secara emosional pada jenis kelamin berbeda (heteroseksual), atau jenis kelamin yang sama (homoseksual) atau kedua jenis kelamin (biseksual),” ujar dia.

Menurut Lili, akibat keputusan seorang anak pada orientasi seksualnya ini akan menimbulkan perilaku seksual menyimpang (LGBT), jika orientasi seksualnya cenderung kepada jenis kelamin yang sama atau kedua-duanya. Tentu kondisi ini dapat kita cegah sebelum usia jelang remaja (pra-pubertas). Pencegahan orientasi seksual menyimpang dapat dilakukan oleh orangtua dengan memberikan pengasuhan yang sesuai dengan usia anak sebelum anak memasuki usia pubertas.

Beberapa model pengasuhan dapat diterapkan orangtua, adalah model pengasuhan anak jelang remaja yang disingkat dengan “Pajar”, terdiri dari lima model pengasuhan, yaitu model responding, preventing, monitoring, mentoring dan modeling. Dari kelima model pengasuhan tersebut menjadi dasar bagi orang tua dalam membantu anak remaja berhasil dan sukses melewati fase-fase perkembangannya, khususnya dalam pembentukan orientasi seksual. (rdo)

Sumber : https://padek.jawapos.com/iptek/03/12/2021/dr-lili-fajria-kegagalan-pola-asuh-picu-anak-seks-menyimpang/

14 December 2021

images

PEMBERITAHUAN Kami beritahukan kepada Bapak/Ibu/Saudara/i Civitas Akademika Fakultas Keperawatan bahwa pada hari Rabu tanggal 15 Desember 2021 Pelaksanaan Pelayanan Akademik, kemahasiswaan, keuangan dan kepegawaian di Fakultas Keperawatan Universitas Andalas ditutup sementara dikarenakan adanya aktivitas pelatihan kompetensi tenaga kependidikan yang dilaksanakan di Hotel ZHM Premiere Padang. Demikian disampaikan, atas perhatiannya diucapkan terimakasih.

Dekan

Dto

Hema Malini, S.Kp., MN., Ph.D

whos online

We have 6 guests and no members online

Sekretariat Fakultas Keperawatan UNAND

Lantai 1, Gedung Fakultas Keperawatan Universitas Andalas 

  • Telepon      : +62-751-779233
  • Fax             : +62-751-779233

Peta